Serve With Heart

 




Be it done unto me according to Your word.

       Kata-kata Maria ini selalu terdengar indah, tetapi hari itu—hari ketika saya dan kelompok SMW berkunjung ke Panti Wreda—saya baru benar-benar merasakan maknanya. Pernahkah kalian merasa gugup saat harus berbicara di depan banyak orang? Saya merasakannya tepat sebelum kegiatan dimulai. Namun siapa sangka, kunjungan itu justru membuka hati saya tentang arti pelayanan yang sederhana, tulus, dan rendah hati.

See


    Saint Mary Way (SMW) adalah salah satu program di SMP Santa Maria yang bertujuan meneladani nilai-nilai Bunda Maria. Setiap kelompok ditugaskan untuk melayani dengan cara nyata. Kelompok saya mendapat kesempatan mengunjungi sebuah panti wreda di Jalan Cikutra, tidak jauh dari Gereja Odilia.

          Sebelum hari pelaksanaan, kami membuat rundown hingga proposal resmi yang harus diserahkan kepada kepala sekolah. Kami juga harus sangat memikirkan apa saja yang akan kamu lakukan disana karena pasti di sana sangat seru dan juga menjadi pengalaman pertama kami mengunjungi panti dan membuat acara disana. Kami berdiskusi panjang mengenai apa saja yang perlu dibawa, tugas masing-masing anggota, dan kegiatan apa saja yang ingin kami lakukan untuk para oma di sana. Setelah semuanya lengkap, barulah kami siap melaksanakan kunjungan.

          Ketika kami tiba di panti, para suster menyambut dengan hangat. Suasana sederhana di panti membuat hati saya tenang. Para oma yang duduk di ruang kumpul tersenyum tipis, seolah menunggu kehadiran kami. Di momen itulah, saya melihat bahwa pelayanan bukan hanya soal memberi sesuatu yang besar, tetapi hadir menemani mereka yang mungkin jarang mendapat kunjungan.

          Saya mendapat tugas bersama teman saya, Adi, dari kelas 9.2. Tugas yang saya dapat adalah untuk menjadi pembicara di awal kegiatan serta diberi tugas juga untuk menyanyikan lagu pembuka sambil bermain gutar bersama teman saya. Jujur, saya sempat ragu karena saya tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang, apalagi orang-orang yang baru saya temui, saya benar benar gugup disana berbicara dengan orang baru dan juga oma oma yang ada disana serta pengurusnya juga. Disana rasanya saya sangat gugup dan tidak tau mau melakukan apa didepan dan bicara apa didepan. Juga saat saya ingin bermain gitar tangan saya rasanya tidak bisa bergerak untuk bermain gitar. Namun melihat para oma yang menatap kami dengan penuh harap, saya mulai mengumpulkan keberanian. Ternyata saat saya bermain gitar dan menyanyikan lagu "Selamat Pagi Bapa" Ternyata oma oma tau lagu tersebut dan bernyanyi dengan gembira dengan kami.

          Setelah sambutan dan doa, kami membuka acara dengan lagu “Selamat Pagi Bapa.” Dari bait pertama, saya terkejut—para oma ternyata sangat mengenal lagu itu. Mereka ikut bernyanyi dengan suara lembut dan senyum yang hangat. Hati saya penuh rasa haru. Lagu sederhana itu membuat kami seperti terhubung satu sama lain.

Judge



       Melalui kunjungan ini, saya merasakan sesuatu yang lebih dalam dari

sekadar kegiatan sekolah. Kami tidak hanya datang membawa rundown, perlengkapan, atau tugas yang dibagi. Kami datang membawa hati, dan para oma membalasnya dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.

    Disana kami memulai acara dengan game yang sudah kami buat sebelumnya. Jadi disana kami tinggal melakukan apa yang kami sudah rencanakan sebelumnya. Game yang kami sudah buat adalah game mengingat masa lalu para oma oma yang disana. Kami sudah membuat kartu yang berisi pertanyaan pertanyaan untuk mengingat masa lalu para oma. Cara bermainnya adalah, kami akan menyetel lagu rohani. Sebelum itu kami memberikan bola kepada oma yang duduk didepan sebelah kanan dan depan sebelah kiri. Selama lagu itu masih berlanjut oma oma harus mengoper bola itu ke oma oma yang ada di kanan kiri ataupun depan belakangnya. Jika lagunya berhenti bola pun akan berhenti di tangan oma yang terakhir memegang bola. Oma yang terakhir memegang bola ini akan kami beri pertanyaan mengenai masa lalunya. Sebenarnya disitulah serunya, ada oma kmayyang masih ingat masa lalunya dan ada juga yang sudah lupa. 

       Dalam diri para oma, saya melihat kelembutan Maria. Mereka menerima kami dengan senyum penuh syukur, meski kami hanya membawa hal-hal sederhana. Dari situ saya belajar arti kerendahan hati, nilai utama yang kami pilih untuk kami teladani dari Bunda Maria.

        Maria tidak pernah mencari perhatian. Ia melayani dalam kesederhanaan. Di panti itu, saya merasa seperti menemukan kembali teladan Maria: bahwa pelayanan bukan tentang tampil sempurna, tetapi hadir dengan hati yang tulus.

     Saat bernyanyi bersama para oma, saya menyadari bahwa mereka sebenarnya bukan hanya objek pelayanan. Mereka adalah guru-guru tanpa gelar, yang melalui wajah-wajah mereka, saya belajar bahwa kasih terbesar justru datang dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta. 

     Pengalaman ini sungguh-sungguh mengubah perspektif saya tentang apa itu "pelayanan yang berhasil." Sebelumnya, saya mungkin berpikir bahwa sebuah pelayanan haruslah megah, terencana detail, dan menghasilkan kesan yang luar biasa. Namun, di antara dinding-dinding Panti Wreda yang sederhana itu, saya melihat nilai sejati dari kehadiran. Kehadiran yang tulus, tanpa agenda tersembunyi, yang hanya ingin berbagi waktu dan perhatian. Melihat mata para oma yang berbinar karena lagu sederhana, atau senyum tulus mereka saat kami membacakan pertanyaan tentang masa muda mereka, mengajarkan saya bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang kita berikan secara materi, melainkan bagian dari diri kita yang kita curahkan. Kami datang dengan ekspektasi untuk "memberi," tetapi justru kami yang menerima lebih banyak. Kami menerima kisah-kisah masa lalu yang penuh warna, tawa yang renyah, dan kehangatan yang meluluhkan rasa gugup saya.

Act

       Pengalaman SMW ini membuat saya


ingin memperbaiki diri. Ada beberapa langkah yang ingin saya ambil setelah kunjungan ini: Belajar berbicara dengan lebih percaya diri, karena keberanian kecil yang saya miliki ternyata dapat membahagiakan orang lain. Melayani tanpa menunggu diminta, mengikuti teladan Maria yang selalu berkata “Ya” dengan rendah hati. Lebih sering berbuat kebaikan kecil, seperti menyapa, membantu, atau mendengarkan orang lain—sebab kebaikan sederhana dapat berarti besar bagi mereka yang membutuhkannya. Mengembangkan empati, bukan hanya melihat dengan mata, tetapi juga dengan hati. Kegiatan SMW ini bukan sekadar program sekolah; ini perjalanan yang mengubah cara saya melihat pelayanan dan kasih.


       Hari itu saya pulang dengan hati yang hangat. Senyum para oma, tangan mereka yang menggenggam kami, dan tawa kecil yang keluar saat kami bernyanyi bersama menjadi kenangan yang tak akan saya lupakan. Saya belajar bahwa melayani bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang kesediaan hadir dan memberi hati kita. Seperti Bunda Maria, “Ya”-ku yang kecil mungkin terlihat sederhana, tetapi saya percaya Tuhan dapat memakai hal kecil itu untuk sesuatu yang besar. Dan semuanya dimulai dari sebuah kunjungan—dan satu senyum yang mengajarkan saya arti melayani dengan hati.

Komentar